http://pattiro.net/blog/
digaboengken dengan daripada kita poenya Perpustakaan Pattiro
Silahkan berkoenjoeng!
untuk registrasi kontributor silahkan hoeboengi andymse@gmail.com
Terimakasih...
Label: Artikel
Bisnis Indonesia, Jum'at, 22 Agustus 2008;Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Anwar Nasution menjawab pertanyaan pers seusai dialog publik di Gedung Sate Bandung, Jabar, kemarin. Pemeriksaan BPK atas laporan keuangan pemerintah daerah dalam empat tahun terakhir menunjukkan transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah yang semakin memburuk.Emmmmhhhh...
Jadi mikir nih!... Selama ini posisi Pattiro (Pusat Telaah dan Informasi Regional) dengan berbagai programnya ada di mana ya? Padahal banyak program-program Pattiro bersinggungan dengan masalah transparansi dan akuntabilitas anggaran. Pun banyak berkaitan dengan pendorongan peraturan-peraturan yang menuju ke arah yang sama. Bisa jadi, sinyalemen ini menunjukkan bahwa Pattiro belum berhasil menancapkan sesuatu peran apapun. Bisa jadi, karena selama ini keberhasilan hanya dipandang proyek per proyek, program per program, sehingga lupa akan gerakan. Terlalu banyak menghitung ulat, burung, flora dan fauna membuat lupa akan hutannya.
Tadinya aku pikir penyakit ini hanya ada di NGO lain, ternyata ada juga di tempat kita sendiri.
Jadi prihatin...
Bagaimana nih???
Label: Artikel


Rumah apakah sama dengan Home atau House ?
Bagi aku, rumah adalah Home sebagai tempat kembali.
Dan House adalah bangunan dari Home itu sendiri.
Nah... kali ini aku berbagi wajah rumah PATTIRO yang kini ada Sepasang. Maaf, hanya bagian luarnya... kalo mau lihat bagian dalamnya, silahkan datang...
Rumah Satu : Jl. Tebet Utara I F No. 6, Jakarta Selatan 12820
Rumah Dua : Jl. Tebet Utara I F No. 3, Jakarta Selatan 12820
Label: Artikel
Puing-puing Kota Bawah Laut : Peninggalan Budaya Dunia
Alexandria, Egypt: Lepas pantai Alexandria, kota dari Alexander the Great, terbentang apa yg dipercayai sebagai puing2 kamar/ruangan kebesaran Cleopatra.Dipercayai bahwa gempa besar sekitar 1500thn yg lalu yg menyebabkan tempat ini tenggelam di dalam laut bersama2 peninggalan2 bersejarah, patung2 dan bagian2 lain dari istana Cleopatra.________________________________________
Bay of Cambay, India: Beberapa thn yg lalu
ditemukan sebuah kota berumur lebih dari 9500 thn.Lebih penting lagi penemuan ini lebih tua 5000thn dari apa yg pernah ditemukan didaerah ini, memaksa para ahli sejarah untuk mengevaluasi kembali pengertian mereka ttg sejarah kebudayaan di daerah itu. Penemuan ini dinamakan Dwarka atau Kota Emas, yg dinamakan menurut kota tua dalam laut yg dimiliki dewa Khrisna.________________________________________
Havana, Cuba: Sebuah tim ilmuwan melanjutkan penelitian ttg puing2 megalitic di selat Yucatan dekat Cuba.Mereka menemukan bukti bahwa ada sebuah pemukiman urban sepanjang beberapa mil sepanjang pantai.Beberapa percaya bahwa yg dahulu tinggal ditempat tsb adalah kebudayaan America tua.________________________________________
Atlantis, Antarctica? Lebih dari 100thn yg lalu seorang kurator museum di Istanbul menemukan sebuat peta tua.Setelah menelitinya dia menemukan lokasi yg ditandai dgn deretan gunung yg lokasinya adalah dimana Antartica skrg berada.Peta ini adalah salah satu dari sekian bukti yg menyatakan bahwa Antartica adalah kota Atlantis yg hilang.Bukti terbaru adalah penemuan menggunakan teknologi sonar yg menunjukkan bahwa ada struktur lagi dibawah Antartica.[*]diambil dari berbagai sumber
selanjutnya...
Label: Artikel
oleh Rokhmad Munawir (PATTIRO Magelang)
Indonesia sudah beberapa kali bongkar-pasang kurikulum. Namun sayangnya bongkar-pasang kurikulum kita selalu episode babat alas bagi sistem pendidikan kita. Pembangunan pendidikan kita seolah kurang bahkan tidak berjalan secara berkesinambungan. Selalu berhenti pada satu babak dan dimulai kembali episode baru, yang sama sekali berbeda. Mulai kurikulum 1984, 1989, 1994 dan terakhir adalah Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) bergantilah dengan KTSP. Selalu ada ciri dan spesifikasi khusus. Semuanya dilakukan atas dasar guna peningkatan mutu pendidikan.
Pola yang diterapkan bukan lagi sistem pengajaran akan tetapi sistem pembelajaran. Untuk itulah guru dituntut untuk lebih profesional. Rencana pembelajaran dibuat berdasarkan kemampuan dasar untuk dapat digali dan dikembangkan oleh siswa. Tugas guru bukan lagi “menabung”, tetapi peran guru lebih sebagai fasilitator pendidikan. Untuk mendukung semua itu maka filosofi konstruktivisme perlu diketahui oleh guru. Metode pembelajaran discovery dan contextual learning sangat diperlukan. Guru harus lebih sabar, penuh perhatian dan pengertian, mempunyai daya kreatifitas yang tinggi dan dedikasi penuh. Sehingga akan menimbulkan sebuah persahabatan dan rasa kekeluargaan antara guru dengan siswa. Sebab guru mampu berperan tidak saja sebagai orang tua di sekolah akan tetapi guru mampu menjadi sahabat tempat bertanya dan teman diskusi. Namun tetap dalam ikatan yang etis dan dinamis serta tetap menghormati.
Banyak kalangan menilai bahwa reformasi dunia pendidikan Indonesia berjalan sangat lambat, salah satunya disebabkan karena guru, banyak guru yang tidak mau berubah, mereka inginnya sistem dan kurikulum seperti yang sudah-sudah. Padahal guru adalah motor penggerak kemajuan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Sehingga kemampuan dan kemauan guru dalam menyesuaikan sistem pembelajaran adalah sesuatu yang mutlak dilakukan serta dedikasi yang tinggi terhadap kemajuan pendidikan.
Bangsa dan negara ini sangat membutuhkan sosok guru yang sadar betul bahwa tugas dan profesinya sebagai pendidik adalah sebuah panggilan hidup, dengan sikap tersebut maka akan muncul sosok seorang guru yang profesionalitasnya tidak diragukan, punya sikap demokratis, penuh dedikasi dan mampu berfungsi sebagai seorang intelektual. Sebab tantangan pendidikan kita saat ini sangat besar, mutu pendidikan kita sudah sangat rendah baik dari sisi teknologi (iptek) maupun moral-kemanusiaan.
Selain lebih mengoptimalkan peran guru, kebiasaan bongkar pasang kurikulum harus dihentikan. Kecepatan inovasi sangat dihargai. Namun, biarkan sistem yang dibangun tersebut berjalan dan waktu yang akan menentukan. Pergantian kebijakan pendidikan juga harus dihilangkan. Ganti menteri jangan ganti kebijakan. Akhirnya babat alas lagi. Jika demikian halnya, maka jangan salahkan jika guru tidak mau berperan secara optimal.
Guru juga manusia. Butuh waktu untuk belajar dan menyesuaikan diri pula. Bukan sebuah robot yang dapat dijalankan dan dihentikan setiap saat sesuai kemauan si pemilik. Ketika episode babat alas ini tidak segera diakhiri, maka sampai kapan pun pendidikan Indonesia akan biasa-biasa saja. Pembangunan yang berkesinambungan itulah kuncinya. Monitoring dan evaluasi (monev) adalah sesuatu yang harus dilakukan. Diawasi, diamati kemudian dievaluasi apa yang menjadi kekurangannya dan apa kelebihannya. Yang kurang diperbaiki dan yang lebih atau baik dipertahankan dan ditingkatkan. [*]
Tulisan ini dimuat pada Majalah LePas Edisi Juni 2007
selanjutnya...
Label: Artikel
Di sebuah sekolah dasar, suatu saat seorang guru bertanya pada Udin:
Bu Guru : "Hei Udin tolong jawab pertanyaan ibu yaach..., Kalo ada 5 ekor
burung di jendela, kemudian ditembak satu, berapa yang masih
tertinggal??????"
Udin : "Habis dong Bu, kan lainnya pada terbang"
Bu Guru : "Salah, harusnya dijawab masih tinggal 4 ekor, tapi saya seneng
kok cara kamu berpikir....."
Di saat yang lain Udin balik bertanya pada Bu Guru.
Udin : "Bu Guru tolong jawab pertanyaan saya...Kalo ada tiga orang cewek,
masing-masing membawa es krim, cewek pertama makan es krim dengan
menggenggam contongnya, yang kedua dengan menjilati es krim tersebut,
yang ketiga langsung mengulumnya, Manakah diantara cewek itu yang sudah
menikah?"
Bu Guru : "Haaahhhh .....pasti yang makannya dengan mengulum langsung
yaaaa"
Udin : "Salah.....harusnya dijawab yang sudah pake cincin kawin, tapi
saya senang lihat cara berpikir Bu Guru"
Label: Artikel
Sungguh ironis sekali ujian nasional sekolah yang katanya sudah diupayakan sedemikian rupa agar tidak bocor ternyata masih juga terdapat kebocoran. Berbagai langkah yang diupayakan oleh pihak-pihak yang terkait dengan ujian nasional masih bisa ditembus oleh oknum-oknum yang berkeinginan agar para siswa bisa lulus dengan jalan pintas. Tapi kita juga cukup salut dengan adanya pengawasan ujian nasional independen yang cukup berhasil menemukan kebocoran-kebocoran ujian. Entah kunci jawaban yang ditemukan melalui HP, melalui kertas biasa dan berbagai kebocoran lainnya yang selama ini mungkin dianggab menjadi hal biasa.
Jika ingat kebocoran itu saya jadi ingat masalah kebocoran naskah ujian yang menimpa SMA pada tahun 1999 di Kota Jogjakarta. Saat itu penulis merupakan salah satu siswa yang mengikuti ujian. Sungguh sangat jengkel sekali kita yang tidak tahu apa-apa mengenai kebocoran tiba-tiba saja karena terjadi kebocoran di Kota Gudek tersebut diwajibkan mengikuti ujian ulang karena masalah tersebut. Para siswa yang seharusnya berlega hati sudah selesai ujian tiba-tiba harus belajar keras lagi untuk mengulang mata pelajaran yang katanya bocor.
Belum bisa kita menarik nafas lega kita juga cukup dikagetkan dengan hasil pengumuman nilai ujian. Nilai yang kita dapat sangat rendah sekali, padahal saat mengerjakan soal ujian dulu tidak sesulit itu. Tentunya kita saat itu shok sekali, usaha keras kita ternyata hasilnya jauh sekali dari harapan. Tentu sebagai seorang anak kita juga takut sekali jika nanti kena marah dari orang tua. Belum ketakutan-ketakutan yang lain. Tapi para siswa menjadi tenang setelah mendengar penjelasan dari salah seorang guru yang mengatakan bahwa untuk sekolah yang ada di Kota Jogja nilainya dipotong dua tiap pelajaran yang tidak di ujiankan ulang, sebagai akibat dari adanya kebocoran soal yang ada di Kota Pelajar tersebut. Biarpun demikian sebagai siswa kita juga sangat malu karena ternyata nilai-nilai yang di capai oleh SMA-SMA yang ada di kota Jogja jauh lebih rendah dibanding SMA-SMA yang ada di kabupaten. Padahal biasanya sebaliknya.
Memang patut disayangkan disatu sisi pemerintah bermaksud meningkatkan kualitas standar pendidikan dengan melakukan Ujian Umum Nasional yang benar-benar bersih dari kebocoran. Dan juga menghilangkan sistem pengkatrolan nilai siswa yang mengakibatkan siswa malas belajar semakin malas. Tetapi karena adanya ketakutan mungkin dari siswa atau bahkan mungkin dari guru dan juga orang tua bisa moment ini bisa dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang ingin meloloskan ujian siswa dengan jalan pintas dengan membocorkan soal ujian mungkin disertai jawabannya.
Jika kondisi ini terus menerus dibiarkan kapan Indonesia bisa melakukan perubahan sistem pendidikan yang benar-benar berkualitas. Kapan Indonesia bisa melahirkan warga yang cerdas dan bisa membangun negeri ini? Jika di usia pelajar saja sudah diperkenalkan mendapatkan sesuatu dengan jalan yang pintas tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Lalu bagaimana nantinya jika hal-hal seperti itu terus membudaya ketika seseorang mengelola persoalan terlebih persoalan publik yang namanya negara! Tidak malukah kita pada para pahlawan yang telah mengorbankan harta, jiwa dan raganya untuk mendirikan dan memperetahankan negeri ini!!!
Label: Artikel
selanjutnya...
Label: Artikel
hape antik dari kudus
Berikut ini gambar HP Pak Anis yang antik dan tiada duanya tersebut.

selanjutnya...
Label: Artikel
Menarik ya kesan teman-teman yang berangkat ke jambore Forum Warga (FW) di Makasar. Banyak temuan baru (pelajaran, pengalaman, dan persahabatan) yang didapatkan. Namun ada sedikit kegelisahan di yang tertinggal ketika membaca komentar-komentar dari peserta. Dari kegelisahan itu, memunculkan gagasan untuk bersama-sama evaluasi terhadap gerakan yang dilakukan kita (PATTIRO Raya) selama ini. Agar lebih seimbang, di samping mengevaluasi kegiatan yang dilaksanakan oleh panita Jambore FW.
Saya coba mengingat dari awal (Kalau ada yang salah mohon dikoreksi). Secara kesejarahan FW (Kaukus 17) bermula dari program-program yang didanai Ford Foundation (FF). Kemudian dari situ bertambah dan terus bertambah kepesertaannya. Karena Lembaga yang bergabung tidak hanya berasal dari lembaga yang didanai dari FF saja. Selain itu lembaga yang sejak semula bergabungtidak hanya memiliki satu kamunitas (FW). Setelah itu mulai muncul kaukus 17++. Tentunya dengan semakin bertambahnya anggota yang bergabung, semakin banyak pula permasalahan yang tersampaikan dan semakin banyak pula pengalaman yang terbagi. Berbagi langkah, pengalaman, dan share pemecahan masalah ini kemudian diakomodir dalam Jambore Forum Warga. Sedangkan Jambore FW ini (kalau tidak salah) sudah dilakukan 3 kali. Di Jogja, Surabaya, dan Makasar.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, tentunya ada kesejarahan juga di tubuh PATTIRO Raya. Sejak awal berdiri (tahun 1999) hingga mengerjakan program kerja sama dengan FF ada 9 daerah (Tangerang, Serang, Bandung, Semarang, Pekalongan, Solo, Gresik, Malang, Surabaya), Sementara itu Jakarta sebagai Kendali Program dan Sekolah Rakyat sebagai Pemegang kendali Capacity Building/couching clinic pelaksananya. Dalam perjalanannya Surabaya dan Bandung memutuskan diri untuk berakhir di tengah jalan (sebelum Program dan Masa Jeda habis). Selama program berjalan, ke-9 daerah ini mendampingi masyarakat yang berbeda-beda. Ada yang guru Aliyah, Guru Honorer, Masyarakat Pedesaan di wilayah perkotaan, Becak, Masyarakat sekitar bandara, Buruh, Angkutan Kota, UKM, dll). Sangat menarik dan banyak pengalaman yang dapat dibagi di dalamnya bersama program yang didanai FF tersebut. Masa-masa ini masing-masing daerah (seolah) berlomba untuk mencapai hasil semaksimal mungkin. Sehingga FW yang terbangun juga 'bagus-bagus' dan top.
Pasca kerja sama dengan FF pada tahun 2004 (selama masa jeda/ bridging), agaknya semangat 'berlomba' tersebut pelan-pelan mulai menyusut. Entah disebabkan karena menyusutnya 'sumberdaya' atau karena perencanaan yang kurang matang dalam terminasi program atau karena sebab lain. Kejayaan itu pelan namun pasti pergi satu persatu entah kemana. Masyarakat (FW) yang menemani selama program berjalan itu kemana? Sudah berdaya dan bisa 'ditinggalkan', mungkin. Atau kita yang sudah tidak 'memiliki' program yang terkait sehingga tidak 'tersapa' lagi, atau entah kemana. Mengapa bisa terjadi? (makanya perlu refleksi dan evaluasi agar jelas tindak lanjutnya- kata Widi SR).
Pada Jambore FW di Makasar ini, agaknya forum warga PATTIRO 'lama' hanya tinggal segelintir saja, sisanya adalah orang baru yang (maaf) belum tahu banyak dinamika di jambore-jambore sebelumya. Kalau disandingkan antara forum warganya dan pendampingnya agaknya seimbang, antara forum warga 'lama' dengan yang 'baru' agaknya nggak seimbang. Sekali lagi terlontar pertanyaan, kemanakah forum warga 'lama' yang pernah menjadi kebanggaan itu?
Apakah mungkin kita termasuk dalam tipologi orang-orang yang semangat dengan hal yang baru dan dengan mudah melupakan yang lama? Apakah kita termasuk dalam kategori orang-orang yang tidak peduli dengan sejarah? Apakah kita termasuk dalam kelompok orang-orang yang mudah meninggalkan kawan lama? Apakah yang sebenarnya kita perjuangkan selama ini? Apakah tujuan jangka panjang yang akan kita raih? Apakah kita hanya pekerja atau agen perubahan sosial atau provokator atau pejuang? Dan lain-lain.
Berjubel-jubel pertanyaan memenuhi pikiranku selama ini. Seringkali ketika di awal program yang akan dijalankan, kita sering kali tidak memikirkan cara terminasinya. Sehingga, apa yang kita lakukan seringkali (meminjam kalimatnya KH Yusuf Khudlori-API Tegalrejo Magelang) Meninggalkan masyarakat dalam kondisi kebingungan. Masyarakat kita kenalkan pada satu hal, namun hal yang kita kenalkan tersebut kita tinggalkan ketika masyarakat belum bisa mandiri. Masyarakat kita biarkan dalam kondisi setengah matang. Pasca program, jika tidak kita jaga kontinuitas hubungan dan komunikasinya, maka image yang akan terbangun di masyarakat bahwa kita hanya 'memanfaatkan' masyarakat bisa jadi akan muncul. Dan apakah kondisi itu tidak akan menyusahkan kita kelak? Apa yang bisa kita banggakan? Apa beda kita dengan 'bajing loncat'? Apa beda kita dengan 'benalu'? Apa beda kita dengan 'parasit'? Apa beda kita dengan ini? Apa beda kita dengan itu? Dan lain sebagainya.
Kembali lagi pada evaluasi dan refleksi kita. Sebagai pihak yang ingin masyarakat di negeri ini sejahtera dan terbebas dari kekurangan (baik kekurangan akses, ekonomi, informasi, maupun dan kekurangan-kekurangan yang lain) saya yakin kita bisa sepakat terhadap prinsip sustainable development. Dan dalam rangka itu pulalah, maka kita melakukan tahapan demi tahapan program. Nah, harapan dari tulisan ini adalah adanya pemahaman bersama terhadap apa yang pernah kita lakukan, apa yang sedang kita lakukan, dan apa yang akan kita lakukan. Semoga dari situ akan terbangun jaringan kegiatan/program/keluarga/aktivis yang memiliki visi dan misi yang jelas. Dari jaringan tersebut diharapkan adanya sinergisitas langkah sesuai dengan wilayah dan tatarannya masing-masing. Sehingga keinginan untuk membebaskan masyarakat (dan diri kita juga) dari segala kekurangan dapat tercapai. Amin.
Terakhir, akankah semua yang tertulis di atas bisa kita di bahas dalam FORSILATNAS dan Jambore Forum Warga PATTIRO RAYA?
Label: Artikel
ketika kecil ku sangat senang sekali menjadi perempuan. kemana-mana bisa pakai rok yang indah, jalan kesana kemari dengan enaknya. tiada kusangka kenyamanan itu hanya sebentar. begitu usia SMP sudah banyak aturan sosial yang mau tak mau juga membatasi gerak dan aktifitasku. ku sih enjoy aja karena ku memang masih hidup dalam suatu tempat yang memang aturannya memang seperti itu. dan itu merupakan sebuah konsekuensi yang harus kujalani.
tapi begitu menginjak kuliah tinggal dikos yang masih punya aturan ketat perempuan tidak boleh pulang malam dan sebagainya ternyata menyebalkan. akhirnya...ku lebih sering tidur dikampus sendirian karena banyak ngerjain tugas organisasi hingga ga bisa pulang ke kos. sampai akhirnya ku memilih pulang pagi dari pada pulang malam dianggap tabu. lebih parah lagi kupernah digruduk polisi gara-gara ndekor dan tidur di sekretariat. yah...macam-macam tuduhan yang disebarkan tetangga. oh my god...!!! untunglah banyak seniorku yang membela.
itu baru contoh kecil kesusahan menjadi perempuan. bukannya ku menolak jadi perempuan yaa...! yang perlu kita sadari bahwa dunia perempuan meski RA Kartini sudah mendengungkan perempuan untuk bisa maju sejak dulu. tetapi yang namanya hambatan entah dari lelaki atau perempuan sendiri itu masih sangat banyak dilapangan.
Label: Artikel

"Jambore ajang organ lokal ditingkat nasional. Boleh dikata Jambore tahun ini gagal. Namun ada keberhasilan bahwa forum warga senantiasa solid dalam mengambil suatu kebijakan fasilitator. Ke depan Pattiro harus berani menginisiasi masalah tersebut. FKKB (Forum Komunikasi Keluarga Becak -red) Kota Surakarta sudah memulai di semua forum warga, tinggal Pattiro mengambil peluang itu. Menebar senyum, menebar kemuliaan. Kaukus 17++ senantiasa berpijak pada PATTIRO Nusantara. Akhir dari cerita Jambore Forum Warga 08 sebagai sarana temu kangen, wisata kuliner tanpa keputusan, tanpa deklarasi, tanpa kesepakatan forum warga. FKKB mendorong semoga PATTIRO menjadi jembatan aspirasi forum warga yang akan datang." Sardi Ahmad (Koordinator FKKB Kota Surakarta)
Label: Artikel
We.e.e.e.e.e... Mbah Darmo.... Mister X... We.e.e.e.e.e.e...

Tentang kelebihan dan kekurangan, ada cerita menarik sewaktu membeli InfoLinux di kios buku di lantai dasar SGM (Solo Grand Mall):
“Mbak, mau beli InfoLinux ada nggak?” tanyaku menyentak.
Si mbak yang cantik langsing nan seksi yang kupingnya tersumpal headset terkejut, rupanya dia sedang asyik mendengarkan musik dari HP-nya.
“Apa mas?”
“InfoLinux!”
“Oh.. ada!, Uh.. mas-e ini, bikin kaget aja”, rajuk si mbak sambil cengengesan agak genit. Mungkin berharap aku benar-benar beli majalah, tidak sekedar bertanya (dalam hati aku senang karena umur hampir empat puluh, anak sudah tiga tapi masih dipanggil 'mas').
“Berapa harganya mbak?”
“Emmh... empat puluh lima mas”
“Mahal banget!”
“Bonus CD-nya ada tiga lho mas”
“Oh ya?”
“Ya iya lah, masa ya iya dong”
“Hehehe...”
Aku ketawa sambil cengar-cengir sok pinter.
“Ya udah, beli itu saja”, kataku sambil mengulurkan lembaran limapuluh ribuan.
Sambil mengangsurkan majalah dan kembalian, mbak-e berkomentar, “Mas kok suka Linux sih? Kan susah pakainya”.
Aku menahan diri untuk tidak menggaruk kepala, sebaliknya membusungkan dada, menyombongkan diri seolah pakar komputer yang paling jagoan. Sambil melirik paha seksi mbak-e yang terbalut blue jeans biru (eh.. sudah blue masih pakai biru), aku bertanya pada si mbak-e.
“Ummph... mbak suka pakai celana jeans atau pakai rok?”
Sebelum mbak-e menjawab, buru-buru aku lanjutkan.
“Yang biasa pakai rok, kalau pakai jeans akan mengeluh susah kalau mau pipis, yang biasa pakai jeans kalau pakai rok tentunya merasa nggak bebas kalau mau mencak-mencak”.
“Iya ya!” mbak-e seksi itu membenarkan.
Sambil sesekali melirak-lirik sekujur tubuh seksi mbak-e aku membalas;
“Ya iya lah, masa ya iya dong...”
Dan selanjutnya kami tertawa bersama.
Sambil berpamitan dan melempar senyum saat mbak-e mengucapkan terimakasih, aku berkata dalam hati, “Pakai jeans tapi gampang pipis juga bisa kok, pakai rok pun pengin bebas mencak-mencak juga bisa!”...
Label: Artikel
"Wah ceweknya ndembig-ndembig", katanya ketika melihat anak-anak ABG berseragam putih abu-abu yang PKL di BAPPEDA yang cakep dan cantik-cantik.
Ketika dia diledek sama temen-temen maka dia bilang, "dasar cah ndembig"!!! Begitu ungkapnya
Awalnya, temen-temen bingung dengan kata-kata aneh tersebut. Namun ketika selalu diucapkan dan selalu didengar maka menjadi sebuah kata yang lazim di kalangan temen-temen PATTIRO Magelang. Kami mencoba memaknai dan mengira-ira artinya. Akhirnya, disimpulkan bahwa jika Ibin sedang senang karena melihat sesuatu yang menyenangkan akan bilang ndembig, ketika sedang susah dan terpojok mengungkapkan kata ndembig juga, maka kesimpulannya adalah bahwa NDEMBIG adalah ungkapan untuk memuji sekaligus mengumpat ala Ibin.
Maka selanjutnya kata NDEMBIG menjadi kosakata baru di Magelang. Itulah larah-larahe kata NDEMBIG.
Label: Artikel
KONSUMSI HERBAL MESTI RASIONAL
Obat Tradisional Bisa Menjadi Racun
Penulis: M. Sholekhudin, sumber: http://kompas.com)
Obat tradisional, khususnya obat herbal, hingga sekarang masih sering menjadi bahan perdebatan seru yang tak kunjung habis. Para pengobat tradisional mendewa-dewakannya, tapi kalangan dokter sering berargumen, "Belum ada buktinya!"
Tidak terlalu sulit mencari contohnya. Hampir tiap tahun muncul primadona baru di jajaran obat tradisional. Sebut saja buah mahkota dewa, lalu virgin coconut oil (VCO), kemudian buah merah, dan yang paling mutakhir, sarang semut. Para pengobat tradisional biasanya mengangkat pamor tanaman primadonanya dengan testimoni para pemakai yang berhasil sembuh. Bagi mereka, pengalaman itu adalah bukti kemujaraban tanaman tersebut. Sayangnya, kalangan dokter selalu bilang, testimoni itu belum bisa dijadikan sebagai bukti. Dalam pandangan dokter, yang dianggap sebagai bukti yaitu uji klinis, bukan pengakuan orang per orang.
Tinggalah orang awam yang kebingungan menyaksikan perselisihan kedua kubu tadi. Kecuali jika orang awam bisa memahami logika ilmu kedokteran modern. Ilmu kedokteran modern ditegakkan di atas data-data penelitian ilmiah yang baru bisa dianggap sah jika telah memenuhi kaidah-kaidah statistik.
Bukan berarti pengalaman-pengalaman para pemakai itu hanya bualan atau omong kosong belaka. Namanya saja cerita. Kita boleh percaya, boleh juga tidak. Masalahnya, kesembuhan beberapa orang belum bisa mewakili populasi karena belum memenuhi kaidah statistik. Itu sebabnya pengakuan beberapa orang belum dianggap sebagai "bukti".
Agar bisa setara dengan obat modern, obat tradisional harus harus melewati banyak tahap. Persis seperti obat modern. Ambil contoh, kumis kucing (Orthosiphon stamineus). Secara empiris, tanaman ini sudah biasa dipakai kakek-nenek kita sebagai obat tekanan darah tinggi. Pada tahap ini, derajat kumis kucing masih sebagai jamu. Secara empiris khasiatnya sudah diakui, tapi belum ada bukti ilmiah yang mendukungnya. Masyarakat dipersilakan memakai, tapi dokter belum sudi meresepkannya.
Agar bisa diresepkan, obat tradisional harus punya bukti ilmiah dulu," kata dr. Hedi R. Dewoto, Sp.FK, farmakolog Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Supaya punya bukti ilmiah, tanaman ini harus diuji dahulu efeknya pada binatang coba. Jika terbukti aman dan menunjukkan efek penurunan tekanan darah, dokter baru akan mengakui khasiatnya. Pada tahap ini pun dokter masih belum bersedia meresepkannya.
Kumis kucing baru akan dianggap setara dengan obat modern jika telah diuji pada manusia. Bukan hanya pada binatang coba. Tahapan inilah yang dikenal sebagai uji klinis. Setelah lulus uji klinis, obat ini baru bisa setara dengan obat-obat modern antihipertensi seperti kaptopril, hidroklorotiazida (HCT), dan sebangsanya.
Begitu lulus uji klinis, obat tradisional bisa memakai baju Fitofarmaka yang layak diresepkan dokter dan bisa masuk pelayanan formal seperti di rumah sakit atau puskesmas. Di Indonesia, baru ada beberapa gelintir Fitofarmaka, seperti Tensigard Agromed (antihipertensi), X-Gra (antidisfungsi seksual pria), Stimuno (peningkat daya tahan tubuh), Nodiar(antidiare), dan Rheumaneer (antinyeri). Obat tradisional kategori ini sudah layak diresepkan karena memang sudah punya bukti klinis yang mendukung. Bukan sekadar pengakuan Pak Wayan ataupun Bu Susi.
Bisa berefek buruk.
Selama ini obat tradisional diyakini tidak punya efek sampingan. Atau, kalaupun ada, efek sampingannya boleh diabaikan. Menurut Hedi, pandangan ini tidak sepenuhnya benar. Bagaimanapun, obat tradisional tetap bahan asing bagi tubuh. Dalam ujian disertasinya di Institut Pertanian Bogor belum lama ini, Dr. dr. Aris Wibudi, Sp.PD, menceritakan sebuah kasus yang bisa menjadi pelajaran.
Aris pernah menangani kasus pasien yang mengalami hipoglikemia berat akibat minum obat tradisional secara salah. Sebelumnya, pasien sudah mendapat obat antidiabetes dari dokter. Lalu, tanpa sepengetahuan dokter, pasien juga minum obat tradisional yang berisi beberapa macam tanaman.
Dua di antaranya sambiloto (Andrographis paniculata) dan brotowali (Tinospora crispa).
Padahal kedua tanaman ini diketahui punya efek menurunkan kadar gula darah. Walhasil, bukannya sembuh, pasien justru mengalami hipoglikemia berat. Efek ini diyakini timbul karena kerja sinergi dari obat antidiabetes dari dokter, ditambah efek hipoglikemia dari sambiloto dan brotowali.
Kasus tadi hanya salah satu contoh dari banyak kasus lain yang tidak sempat terdokumentasi. Efek buruk lain misalnya timbulnya perdarahan atau hipotensi berat setelah minum obat tradisional tertentu. Ini semua membuktikan kalau jamu pun bisa menimbulkan efek buruk jika diminum tanpa hati-hati. Efek buruk ini sulit diperkirakan karena dokter pun tidak tahu mekanisme kerja obat tradisional di dalam tubuh.
Ini memang salah satu kekurangan obat tradisional. Berbeda dengan obat-obat modern yang cara kerjanya diketahui jelas. Kita bisa membandingkan antara sari kumis kucing dan kaptopril atau HCT. Baik kaptopril maupun HCT punya berjibun data penelitian yang menunjukkan mekanisme kerjanya. Kaptopril diketahui bekerja menurunkan tekanan darah dengan cara memperlebar dan memperlentur pembuluh darah. Sedangkan HCT menurunkan tekanan darah dengan cara mengurangi volume cairan di dalam pembuluh darah. Cara kerja kedua obat ini telah diketahui jelas. Nah, pada kumis kucing, mekanisme kerjanya masih sebatas dugaan.
Para peneliti belum bisa memastikan cara kerjanya karena kandungan obat tradisional jauh lebih kompleks daripada obat modern. Sebagai gambaran, dalam sehelai daun kumis kucing terdapat puluhan hingga ratusan macam senyawa fitokimia (fito: tumbuhan). Begitu pula di dalam buah pace, pare, mahkota dewa, buah merah, dan sebagainya. Lain di buah, beda di akar. Sebagian besar senyawa fitokimia ini tidak diketahui strukturnya. Apalagi mekanisme kerjanya. Semuanya masih gaib.
Isinya bermacam-macam
Menurut Hedi, penelitian obat tradisional hingga sekarang kebanyakan masih dalam tahap farmakodinamika. Maksudnya, para peneliti hanya menguji ada tidaknya efek tertentu pada hewan coba. Misalnya, apakah memang benar ekstrak buah mahkota dewa mempunyai efek menurunkan kadar gula darah pada binatang coba.
Karena itu, penelitian semacam itu belum bisa menjawab pertanyaan lebih lanjut: senyawa apa yang punya efek menurunkan kadar gula darah; bagaimana strukturnya; dan bagaimana mekanisme kerjanya. Semua masih samar-samar.
Kebanyakan penelitian masih berhenti sampai di sini. Itu terjadi pada hampir semua tanaman obat. Para peneliti baru bisa membuktikan bahwa ekstrak buah pace memang bisa menurunkan tekanan darah. Tapi mereka hanya bisa menduga-duga cara kerjanya di dalam tubuh. Masih wallahu a’lam.
Bahkan sediaan fitofarmaka yang layak diresepkan dokter pun masih belum jelas betul mekanisme kerjanya. Kandungan aktifnya masih sebatas dugaan. Mekanisme kerjanya juga masih kira-kira. Kalaupun para peneliti mengetahui kandungan fitokimianya, kebanyakan masih sebatas golongan umum. Misalnya alkaloid, flavonoid, antioksidan, minyak atisiri, asam amino, dan sejenisnya. Nama-nama ini bukanlah nama sebuah senyawa fitokimia tertentu, tapi nama golongannya. Jika dianalogikan dengan orang Indonesia, nama-nama itu nama suku, bukan nama orang. "Alkaloid itu jenisnya sangat banyak. Flavonoid juga begitu," ujar Hedi.
Jika suatu tanaman mengandung alkaloid, tidak berarti ia pasti berkhasiat sebagai obat diabetes atau hipertensi. Begitu pula, jika suatu tanaman mengandung antioksidan atau flavonoid, tidak otomatis ia punya efek antikanker. Sama persis seperti logika kita sehari-hari. Orang Madura tidak otomatis berprofesi sebagai penjual sate. Orang Padang tidak mesti punya warung nasi padang.
Contoh ada!
Kompleksitas kandungan fitokimia ini di satu sisi memang menimbulkan masalah bagi peneliti. Tapi di sisi lain, hal ini justru menjadi rahasia yang menantang. Jika dokter mengatakan belum ada buktinya, itu sama sekali tidak berarti tanaman tersebut tidak berkhasiat. Bisa saja berkhasiat. Cuma masalahnya, belum ada penelitian yang mendukung.
Buktinya melimpah. Banyak obat modern yang awalnya obat tradisional. Kita bisa menyebut contoh vinkristin, vinblastin, digitalis, artemisin, morfin, kodein, dan masih banyak lagi. Semua nama ini contoh senyawa tunggal yang masuk kategori obat modern.
Vinkristin dan vinblastin, dua senyawa antikanker, diisolasi dari tapak dara (Vinca rosea). Digitalis, obat jantung, berasal dari tanaman Digitalis purpurea. Artemisin, obat antimalaria, berasal dari tanaman Atemisia annua. Morfin, obat penekan sistem saraf pusat yang sering disalahgunakan itu, berasal dari tanaman opium (Papaver somniverum). Dari morfin, para ilmuwan lalu mengembangkan kodein yang biasa dipakai sebagai obat batuk. Semua contoh ini membuktikan, tanaman obat punya potensi menghasilkan senyawa tunggal untuk obat modern.
Dalam pandangan Hedi, salah satu kendala penelitian obat tradisional adalah masalah waktu dan biaya. Agar jamu bisa naik kelas menjadi obat modern yang diketahui mekanisme kerjanya, penelitiannya membutuhkan waktu hinga 20-an tahun.
"Biayanya gak kebayang, deh!" ucap Hedi sambil geleng-geleng kepala. Lebih susah lagi, para peneliti sejauh ini biasanya bekerja sendiri-sendiri, tidak fokus meneliti suatu tanaman tertentu mulai dari A sampai Z. "Jadi, kalau sekarang kita ditanya bagaimana mekanisme kerjanya, itu masih jauh," tandasnya, masih dengan geleng-geleng kepala.
Artinya, kita tidak perlu tergesa-gesa menyimpulkan bahwa tanaman anu pasti punya khasiat anu. Di lain pihak, kita juga tidak boleh meremehkan dan menganggap bahwa khasiat tanaman obat hanya mitos belaka. Semua harus dipandang secara rasional dan objektif. Bisa saja suatu saat nanti kita berhasil mengisolasi obat antihepatitis dari meniran atau temu lawak. Siapa tahu nanti kita bisa menemukan obat antikanker dari buah mahkota dewa, atau obat anti-HIV dari buah merah.
Kita boleh berharap 'kan?
Label: Artikel
Gara-gara beristri dua, aa-gim bangkrut dan sekarang jualan mie ayam dan bakso. Ini buktinya...
Wisata kuliner ini bisa kamu temui di sebelah selatan lapangan Kalisari Semarang. Dari Tugu Muda ke arah selatan kira-kira 1km. (jepretan Andy MSE 08/04/2008 jam 18.21)
Label: Artikel
Langkah 1:

Langkah 2:

Langkah 3:

Langkah 4:

Langkah 5:

Langkah 6:

Langkah 7:

Selamat!... Kamu sudah bergabung dalam PattiroBloggerMania.
selanjutnya...
Label: Artikel
Menurut saya, itu artinya pemerintah sama sekali tidak mempunyai kesiapan untuk melakukan konversi minyak tanah ke gas. Di lain hal, beban subsidi BBM dirasakan semakin berat. Piye jal ki???
Atau.. kita rame2 aja ganti pake kayu bakar ya? Daripada kayu di hutan cuma dihabisin sama pemegang HPH... Hehehe... Lha nanti yang sudah "kadhung" enjoy pake gas ga bisa bikin api pake kayu bakar??? Piye jal ki???
Buntutnya... Sepertinya perlu suatu regulasi, mekom, dan mekanisme pangawasan yang jelas dan tegas... Haiyyah... Mumet ndasku... Piye jal ki???
Label: Artikel
Label: Artikel
Seorang anak telah menelan uang logam Rp.100,00 kemudian ia memberitahukannya kepada sang ibu, tapi sang ibu mengatakan kalau uang tsb,akan keluar pada saat buang air besar.
Pada saat anak ini buang air besar, yang keluar bukan 100 tetapi 500. Sang ibu pun penasaran,ia berpikir bila uang ditelan maka akan keluar lebih banyak. Tanpa pikir panjang lagi, ia menelan Rp.10.000 dengan harapan bisa keluar yang lebih besar.
Pada saat buang air besar,yang keluar bukan uang ,tapi sebuah gulungan kertas kecil. Setelah dibuka,di sana tertulis,"ANDA BELUM BERUNTUNG"[]
Label: Artikel
Seorang penjual obat yang berkepala botak berteriak-teriak memanggil pembeli. Ia menawarkan minyak rambut yang dapat menumbuhkan rambut dalam waktu beberapa jam saja.
"Hai, bung," seorang yang lewat berkata. "Bung sendiri tidak punya rambut. bagaimana orang percaya, minyak itu bisa menumbuhkan rambut."
"Itu bukan soal," jawab orang itu. "Tuan lihat itu teman saya. Dia menjual kutang perempuan, tetapi ia sendiri tidak memakainya."
Label: Artikel
Pada akhirnya kita tidak akan heran jika mendapati para sarjana yang meskipun sudah lulus dari perguruan tinggi katakanlah cumlode tapi dilapangan juga kesulitan mendapatkan pekerjaan. Teman saya sering bilang dunia pendidikan di Indonesia itu outputnya masih jauh dengan apa yang diharapkan. Pendidikan masih lebih bersifat prestise untuk mendapatkan gelar semata. Sedangkan jika seseorang tersebut dimintai berkerja sesuai dengan jurusannya dilapangan ia menjadi kelabakan. Banyak hal yang masih belum ia ketahui tetapi ia dituntut untuk bisa menyelesaikannya. Memang lulus S1 bukan jaminan untuk dapat pekerjaan. Saat ini banyak sekali banyak sekali pengangguran termasuk sarjana didalamnya.
Dari majalah Tempo, Edisi Khusus 2 tahun SBY-JK, Edisi 23-29 Oktober 2006, “Saatnya Menagih Setumpuk Janji” menyebutkan bahwa pengangguran terbuka di Indonesia meningkat menjadi 10,4 % (11,1 juta jiwa) pada Februari 2006. Jumlah pekerja yang di PHK pada Januari-Novemer 2005 mencapai 109.382 orang (3.481 kasus). Ini artinya bahwa untuk mendapatkan pekerjaan seseorang juga harus mempunyai kemampuan dan berbagai ketrampilan yang terus diasah karena dilapangan nantinya juga penuh kompetesi dengan yang lainnya. Terutama dengan para sarjana yang sudah menyadang predikat “penganggur” sebelumnya.
Lapangan pekerjaan saat ini bukan semata-mata hanya mengandalkan dia lulus apa, akan tetapi juga melihat faktor-faktor lainnya seperti kapabilitas dari personal yang bersangkutan. Apakah pesonel tersebut nanti bisa diajak bekerja untuk sebuah instansi atau tidak itu juga menjadi dasar pemilihan lembaga untuk mengambil tenaga kerjanya. Sudah menjadi pegawai disitupun jika nanti diperjalanannya tidak sesuai dengan kriteria yang diinginkan instansi tersebut, saat ini bukan hal yang asing lagi mendengar istilah PHK.
Jika nantinya kita sebagai seorang sarjana hanya memandang bahwa yang namanya kerja itu hanya dipandang sebagai pegawai, ini nantinya juga tidak jauh dari pendapat masyarakat yang berpendapat seperti itu. Dengan kata lain justru gelar yang diharapkan bisa menjadi pemacu motivasi, menjadi lebih percaya diri dan kreatif menjadi belenggu. Akhirnya setelah menjadi sarjana justru menjadi orang yang pilih-pilih pekerjaan, selektif dalam bergaul dsb, Suara Merdeka (14/4/07).
Memang di tengah masyarakat kita sering kurang menghargai kerja yang dihasilkan dari karya seseorang. Mereka lebih memandang orang itu bekerja kalau menjadi pegawai di lembaga tertentu. Hal ini juga disesalkan oleh salah satu pembantu rektor ISI Surakarta. Mereka yang menjadi seniman terkadang juga menemui pandangan-pandangan tersebut dari masyarakat. Lalu hal apa yang bisa kita lakukan dengan adanya kenyataan tersebut? Salah satunya adalah tidak memandang negatif terhadap orang yang bekerja di profesinya sendiri dimana ia tidak menjadi pegawai seperti menekuni dunia pertanian.
Dunia Pertanian
Pada waktu kita duduk dibangku Sekolah Dasar kita sering mendengar dari guru kita yang menjelaskan bahwa sebagian besar dari penduduk Indonesia itu bermata pencaharian sebagai seorang petani. Akan tetapi seiring dengan kemajuan zaman kondisi pertanian Indonesia mulai mengalami keterpurukan. Negara kita sering dipermainkan oleh kondisi pasar luar negeri yang mau tak mau juga membuat hasil pertanian di Indonesia juga harganya tidak menentu. Belum lagi ulah para pelaku pasar, para pembuat kebijakan publik negara kita yang sering juga semakin menyebabkan para petani kesusahan mengais rezqi. Beras yang dikatakan komoditi Indonesia justru para pelaku kebijakan mengekspor dari luar negari yang ini tentunya membuat petani kesusahan untuk menjual hasil produknya. Didalam negeri sendiri saja sulit laku, lalu bagaimana bisa sampai mengekspor? Belum berbagai kendala yang dijumpai dalam mempertahankan hasil pertaniannya, seperti menghadapi musim kemarau dan sebagainya.
Tentunya hal ini bukan bermaksud mematahkan harapan penduduk kita yang menjadi seorang petani. Akan tetapi jika kita melihat di daerah pertanian saat ini banyak sekali mengalami kendala. Misalnya saja sistim irigasi dan politik air saat ini jelas sekali banyak yang tidak berpihak pada rakyat. Politik air dan irigasi kita bergerak kearah swastanisasi. Hak-hak pengelolaan sumber-sumber air potensial di pegunungan banyak diberikan pada pihak swasta. Disamping itu dunia pertanian saat ini juga mulai mengalami kekurangan tenaga kerja. Sekitar 70% petani Indonesia berusia diatas 40 tahun dan sekitar 6 juta adalah petani yang berusia tua atau bisa di sebut jompo.
Para pemuda sudah sedikit sekali yang mau terjun dalam bidang pertanian. Dunia pertanian sering di jadikan pilihan terakhir untuk dijadikan pilihan hidup. Ini tidak terkecuali dengan pemuda yang sebelumnya juga berbackgraund dari keluarga petani.Tetapi, setelah di sekolahkan sampai di perguruan tinggi juga enggan jika akan kembali menekuni dunia pertanian seperti orangtuanya. Hal ini bukan karena faktor malas para pemuda untuk terjun kedunia pertanian. Akan tetapi, berbagai kendala dalam dunia pertanian menyebabkan orang enggan turun kesana, belum lagi adanya pandangan bahwa orang sering dipandang bekerja jika sudah menjadi pegawai. Sedang orang-orang yang bekerja dengan usahanya sendiri masih kurang dihargai. Di lain pihak pemuda tersebut juga tidak mempunyai banyak bekal ketrampilan sebelumnya khususnya dunia pertanian. Akhirnya dengan adanya pandangan tersebut para pemuda menjadi enggan untuk terjun kedunia pertanian.
Jika hal ini terus terjadi maka sumber daya manusia kita yang terjun di pertanian semakin sedikit. Pada akhirnya hasil pertanian yang seharusnya bisa dihasilkan dari negeri sendiri justru harus mengimpornya dari luar negeri. Untuk itu ada beberapa langkah yang musti bisa dilakukan. Salah satunya adalah mengajak generasi muda untuk tidak malu terjun kebidang pertanian tidak terkeculai seorang sarjana. Untuk terjun dibidang pertanian juga membutuhkan berbagai ketrampilan yang perlu dipelajari. Misalnya seperti menarik minat pemuda untuk belajar mengenai soal pertanian. Melakukan berbagai pelatihan yang diharapkan meningkatkan ketrampilan pemuda untuk terjun kedunia pertanian dsb. Dengan demikian diharapkan nanti pemuda juga bisa melakukan managemen dan mengembangkan dunia pertanian meskipun ia tidak terjun langsung dilapangan sebagai seorang petani.
Disamping itu ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan jika mau terjun ke dunia pertanian. Pertama, bagaimana produksi dapat kita kuasai kembali. Kedua, bagaimana keragaman sumber pangan pokok dapat dikuatkan dan dikembangkan dengan didukung keanekaragaman tanaman pertanian dan produksi pangan di tingkat rakyat. Ketiga, bagaimana rakyat dapat menguasai, menguatkan dan mengembangkan teknologi produksi pangannya secara bebas dan otonom tanpa ada tekanan. Empat, menguatkan sumber-sumber pangan di perairan untuk menguatkan kedaulatan atas pangan. Dan terakhir adalah mengupayakan agar petani itu juga tetap mempunyai hak sebagai produsen pangan.
Tentu pengetahuan dan ketrampilan akan hal itu tidak akan datang begitu saja jika selama menjadi mahasiswa tidak pernah belajar akan masalah tersebut. Yang sering terjadi biasanya orang baru mau belajar jika kondisi sudah mengharuskan mau tak mau membutuhkan hal tersebut. Untuk itu sebelum terlambat mari kita sebagai generasi muda mencoba meningkatkan keprofesionalan kita dalam bidang yang kita sukai termasuk menumbuhkan ketertarikan kita didunia pertanian yang merupakan tulang punggung negeri ini. Berbagai pelatihan itu dapat terselenggara dengan melibatkan berbagai stakeholder yang terkait. Dengan belajar sejak dini maka diharapkan nanti kita tidak akan gagap dilapangan jika suatu ketika kita sudah membutuhkan pekerjaan.(la3)
Label: Artikel
Dorce Show 01/04/2008:
Pakar Pornomatika KRMT Roy Suryo tampil di Dorce Show. Salah satu "action"nya kali ini adalah cerita pengungkapannya atas kasus foto syur Sandra Dewi. Hhhhh... basi....
Gimana nih Kanjeng Pakar? Kok "action"nya malah begitu? Mana janjimu mau "action" ungkap kasus "deface" Situs Depkominfo pasca peluncuran UU-ITE???
Yeeeeee... yang diurusin malah "ituuuuuuu".... muluuuu....
Label: Artikel
Label: Artikel
Di saat-saat beban eksternal yang semakin lama semakin bertambah.
"Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita.
Pembaca, hidup memang tidak lepas dari berbagai tekanan. Lebih-lebih, hidup di alam modern ini yang menyuguhkan beragam risiko. Sampai seorang sosiolog Ulrich Beck menamai jaman kontemporer ini dengan masyarakat risiko (risk society). Alam modern menyuguhkan perubahan cepat dan tak jarang mengagetkan.
Nah, tekanan itu sesungguhnya membentuk watak, karakter, dan sekaligus menentukan bagaimana orang bereaksi di kemudian hari. Pembaca, pada kesempatan ini, saya akan memaparkan empat tipe orang dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut. Mari kita bahas satu demi satu tipe manusia dalam menghadapi tekanan hidup ini.
Tipe pertama, tipe kayu rapuh. Sedikit tekanan saja membuat manusia ini patah arang. Orang macam ini kesehariannya kelihatan bagus. Tapi, rapuh sekali di dalam hatinya. Orang ini gampang sekali mengeluh pada saat kesulitan terjadi.
Sedikit kesulitan menjumpainya, orang ini langsung mengeluh, merasa tak berdaya, menangis, minta dikasihani atau minta bantuan. Orang ini perlu berlatih berpikiran positif dan berani menghadapi kenyataan hidup.
Majalah Time pernah menyajikan topik generasi kepompong (cacoon generation). Time mengambil contoh di Jepang, di mana banyak orang menjadi sangat lembek karena tidak terbiasa menghadapi kesulitan. Menghadapi orang macam ini, kadang kita harus lebih berani tega. Sesekali mereka perlu belajar dilatih menghadapi kesulitan. Posisikan
kita sebagai pendamping mereka.
Tipe kedua, tipe lempeng besi. Orang tipe ini biasanya mampu bertahan dalam tekanan pada awalnya. Namun seperti layaknya besi, ketika situasi menekan itu semakin besar dan kompleks, ia mulai bengkok dan tidak stabil. Demikian juga orang-orang tipe ini. Mereka mampu menghadapi tekanan, tetapi tidak dalam kondisi berlarut-larut.
Tambahan tekanan sedikit saja, membuat mereka menyerah dan putus asa. Untungnya, orang tipe ini masih mau mencoba bertahan sebelum akhirnya menyerah. Tipe lempeng besi memang masih belum terlatih. Tapi, kalau mau berusaha, orang ini akan mampu membangun kesuksesan dalam hidupnya.
Tipe ketiga, tipe kapas. Tipe ini cukup lentur dalam menghadapi tekanan. Saat tekanan tiba, orang mampu bersikap fleksibel. Cobalah
Anda menekan sebongkah kapas. Ia akan mengikuti tekanan yang terjadi. Ia mampu menyesuaikan saat terjadi tekanan. Tapi, setelah berlalu, dengan cepat ia bisa kembali ke keadaan semula. Ia bisa segera melupakan masa lalu dan mulai kembali ke titik awal untuk memulai lagi.
Tipe keempat, tipe manusia bola pingpong. Inilah tipe yang ideal dan terhebat. Jangan sekali-kali menyuguhkan tekanan pada orang-orang ini karena tekanan justru akan membuat mereka bekerja lebih giat, lebih
termotivasi, dan lebih kreatif. Coba perhatikan bola pingpong. Saat ditekan, justru ia memantuk ke atas dengan lebih dahsyat. Saya teringat kisah hidup motivator dunia Anthony Robbins dalam salah satu biografinya.
Untuk memotivasi dirinya, ia sengaja membeli suatu bangunan mewah, sementara uangnya tidak memadai. Tapi, justru tekanan keuangan inilah yang membuat dirinya semakin kreatif dan tertantang mencapai tingkat finansial yang diharapkannya. Hal ini pernah terjadi dengan seorang kepala regional sales yang performance- nya bagus sekali.
Bangun network
Tetapi, hasilnya ini membuat atasannya tidak suka. Akibatnya, justru dengan sengaja atasannya yang kurang suka kepadanya memindahkannya ke daerah yang lebih parah kondisinya. Tetapi, bukannya mengeluh seperti rekan sebelumnya di daerah tersebut. Malahan, ia berusaha membangun netwok, mengubah cara kerja, dan membereskan organisasi. Di tahun kedua di daerah tersebut, justru tempatnya berhasil masuk dalam daerah tiga top sales.
Contoh lain adalah novelis dunia Fyodor Mikhailovich Dostoevsky. Pada musim dingin, ia meringkuk di dalam penjara dengan deraan angin dingin, lantai penuh kotoran seinci tebalnya, dan kerja paksa tiap hari. Ia mirip ikan herring dalam kaleng. Namun, Siberia yang beku tidak berhasil membungkam kreativitasnya.
Dari sanalah ia melahirkan karya-karya tulis besar, seperti The Double dan Notes of The Dead. Ia menjadi sastrawan dunia. Hal ini juga dialami Ho Chi Minh. Orang Vietnam yang biasa dipanggil Paman Ho ini harus meringkuk dalam penjara. Tapi, penjara tidaklah membuat dirinya patah arang. Ia berjuang dengan puisi-puisi yang ia tulis. A
Comrade Paper Blanket menjadi buah karya kondangnya.
Nah, pembaca, itu hanya contoh kecil. Yang penting sekarang adalah Anda. Ketika Anda menghadapi kesulitan, seperti apakah diri Anda? Bagaimana reaksi Anda? Tidak menjadi persoalan di mana Anda saat ini. Tetapi, yang penting bergeraklah dari level tipe kayu rapuh ke tipe selanjutnya. Hingga akhirnya, bangun mental Anda hingga ke level bola pingpong. Saat itulah, kesulitan dan tantangan tidak lagi menjadi suatu yang mencemaskan untuk Anda. Sekuat itukah mental Anda?
Andwi Joko, M
Label: Artikel
Ini gambarnya:






Label: Artikel
Lha ini sudah ada Tim O’reilly yang sudah menggagas suatu Blogger’s Code of Conduct. Simak berikut ini: (ini masih RUU)...
1. We take responsibility for our own words and for the comments we allow on our blog.
We are committed to the “Civility Enforced” standard: we will not post unacceptable content, and we’ll delete comments that contain it. We define unacceptable content as anything included or linked to that:
- is being used to abuse, harass, stalk, or threaten others
- is libelous, knowingly false, ad-hominem, or misrepresents another person,
- infringes upon a copyright or trademark
- violates an obligation of confidentiality
- violates the privacy of others
We define and determine what is “unacceptable content” on a case-by-case basis, and our definitions are not limited to this list. If we delete a comment or link, we will say so and explain why. [We reserve the right to change these standards at any time with no notice.]
2. We won’t say anything online that we wouldn’t say in person.
3. We connect privately before we respond publicly.
When we encounter conflicts and misrepresentation in the blogosphere, we make every effort to talk privately and directly to the person(s) involved–or find an intermediary who can do so–before we publish any posts or comments about the issue.
4. When we believe someone is unfairly attacking another, we take action.
When someone who is publishing comments or blog postings that are offensive, we’ll tell them so (privately, if possible–see above) and ask them to publicly make amends.
If those published comments could be construed as a threat, and the perpetrator doesn’t withdraw them and apologize, we will cooperate with law enforcement to protect the target of the threat.
5. We do not allow anonymous comments.
We require commenters to supply a valid email address before they can post, though we allow commenters to identify themselves with an alias, rather than their real name.
6. We ignore the trolls.
We prefer not to respond to nasty comments about us or our blog, as long as they don’t veer into abuse or libel. We believe that feeding the trolls only encourages them–”Never wrestle with a pig. You both get dirty, but the pig likes it.” Ignoring public attacks is often the best way to contain them.
Versi Indonesianya kurang lebih seperti ini:
1. Kita bertanggungjawab tidak hanya pada tulisan kita sendiri, tapi pada setiap komentar atas tulisan di blog kita.
Memang komentar bisa ditulis oleh orang lain, tetapi kita sebenarnya bisa me-moderate setiap komentar. Kita bisa hapus atau ubah komentar yang tidak pantas misalnya. Jadi setiap komentar yang kita “ijinkan” muncul di blog kita, itu juga merupakan tanggung jawab kita.
2. Bila kita tidak berani mengatakan sesuatu secara langsung kepada orang yang bersangkutan, kita tidak akan menulisnya di blog.
Dengan kata lain, jangan cuma berani ngomong di belakang punggung orang lain. Istilah bahasa Jawanya: wani bokong wedi rai.
3. Kita melakukan kontak secara pribadi dulu sebelum mempublikasikannya di blog.
Saat kita mengalami konflik di dunia maya, hendaknya kita menghubungi langsung orang yang bersangkutan—atau mencari perantara—sebelum kita mempublikasikan tulisan atau komentar tentang konflik itu. Ini untuk menghindari kesalahpahaman.
4. Kalau kita yakin ada seseorang yang secara tidak benar menyerang orang lain, kita juga bertindak.
Saat kita melihat ada tulisan atau komentar orang lain yang sifatnya mengganggu atau menyerang orang lain secara tidak benar, hendaknya kita menyampaikan (secara pribadi kalau memungkinkan—lihat poin 3) dan memintanya memperbaiki tulisan itu.
5. Kita tidak mengijinkan komentar anonimus.
Setiap pemberi komentar harus kita wajibkan untuk memberikan alamat email yang benar. Namun demikian mereka masih diperbolehkan untuk menggunakan nama samaran.
6. Kita abaikan orang-orang iseng.
Kita tidak usah merespon terhadap komentar-komentar miring tentang kita atau tulisan kita selama tidak mengarah pada kekerasan atau fitnahan. Menanggapi mereka hanya akan membuat mereka senang—“Jangan bergulat dengan babi. Kalian berdua akan sama-sama kotornya, tapi babi suka kotor.” Mengabaikan serangan di depan umum seringkali merupakan cara yang terbaik untuk menghentikannya.
Tenang aja, itu cuma gagasan. Yang penting kita bikin suasana damai, aman, sentosa, tapi terus tambah sejahtera... Piye jal ki???
Label: Artikel

